ADSENSE 336 x 280
![]() |
Penyebutan Khulafatur Rasyidin dalam Sholat Tarawih |
MEMBENTENGI 'AWAM
(Menguak Alasan Penyebutan Nama Khulafatur Rasyidin dalam Sholat
Tarawih)
***
oleh : Ustadz Salim A. Fillah
Suatu saat seorang kawan mempertanyakan, mengapa banyak muslimin
Nusantara dalam shalat tarawihnya menambahkan hal-hal yang, menurut dia, sama
sekali tanpa tuntunan dari Rasulillah ﷺ.
Misalnya adalah, dalam rehat yang disunnahkan setiap 4 raka'at,
setelah shalawat yang bertumpuk-tumpuk untuk Nabi ﷺ, ada peran yang disebut
"Bilal", bertugas menyerukan nama para Khalifah.
Setelah raka'at ke-8, dia berseru: "Al Khalifatul Awwal Sayyiduna
Abi Bakrinish Shiddiq Radiyallahu ‘Anhu; Atardhu 'Anh? (Khalifah pertama adalah
junjungan kita Abu Bakar Ash Shiddiq semoga Allah meridhainya; apakah kalian
ridha padanya?)"
Jama'ah menjawab, "Nardhu 'Anh. (Kami ridha padanya)."
Setelah raka'at ke-12, dia berseru: "Al Khalifatuts Tsani
Amirul Mukminin Sayyiduna 'Umar ibnul Khattab Radiyallahu ‘Anhu; Atardhu 'Anh?
(Khalifah kedua adalah pemimpin kaum mukminin, junjungan kita Umar ibnul
Khattab semoga Allah meridhainya; apakah kalian ridha padanya?)"
Jama'ah menjawab, "Nardhu 'Anh. (Kami ridha padanya)."
Setelah raka'at ke-16, dia berseru: "Al Khalifatuts Tsalits
Amirul Mukminin Sayyiduna 'Utsman ibn 'Affan Radiyallahu ‘Anhu; Atardhu 'Anh?
(Khalifah ketiga adalah pemimpin kaum mukminin, junjungan kita 'Utsman ibn
'Affan semoga Allah meridhainya; apakah kalian ridha padanya?)"
ADSENSE Link Ads 200 x 90
"Arial",sans-serif; font-size: 13.0pt;">Jama'ah menjawab, "Nardhu 'Anh. (Kami ridha padanya)."
ADSENSE 336 x 280
dan
ADSENSE Link Ads 200 x 90
Setelah raka'at ke-20, dia berseru: "Al Khalifatur Rabi'
Amirul Mukminin Sayyiduna 'Ali ibn Abi Thalib Radiyallahu ‘Anhu; Atardhu 'Anh?
(Khalifah keempat adalah pemimpin kaum mukminin, junjungan kita 'Ali ibn Abi
Thalib semoga Allah meridhainya; apakah kalian ridha padanya?)"
Jama'ah menjawab, "Nardhu 'Anh. (Kami ridha padanya)."
Sayapun meriwayatkan padanya jawaban salah seorang guru saya,
"Bagaimana sekiranya ini pasa awalnya adalah sebuah ikhtiyar luhur untuk
membentengi kaum 'awam ummat dari sebuah keyakinan dan pemahaman yang amat
merusak?"
"Faham apakah itu?", tanyanya.
"Faham yang menolak kepemimpinan 3 Khalifah sebelum Sayyidina
'Ali, mengajak membenci para sahabat kecuali sedikit di antara mereka, mengajak
melaknati Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina 'Umar beserta kedua putri agung
mereka, serta mendungu-dungukan Sayyidina 'Utsman."
"Syi'ah?", tanyanya.
"Rafidhah", tegas saya.
Seperti para penguasa Daulah Turki 'Utsmaniyah memasang
nama-nama mulia ini di bawah kubah raksasa Masjid-masjid mereka, seperti para
remaja masa kini mencetaknya di kaos-kaos keren, para 'ulama Nusantara merasa
perlu menjaga cinta serta kesetiaan kepada para sahabat Rasulullah ini bahkan
dengan terus-menerus meyakinkan ummat untuk ridha kepada Abu Bakr, 'Umar,
'Utsman, dan 'Ali di ujung-ujung Qiyamul Lail Ramadhan yang syahdu.
Bid'ahkah?
Barangkali jika kita menganggapnya hanya sebagai ungkapan cinta
kepada Ash Shiddiq, Al Faruq, Dzun Nurain, dan Abul Hasan Radhiyallaahu 'Anhum,
bukan sebagai doa khusus, dan tak diyakini bagian dari ibadah shalat
Tarawihnya, ia sungguh bukan demikian.
"Tapi jika engkau hendak mempersoalkan tradisi yang telah
berabad-abad menjaga muslimin Nusantara dari kesesatan ini", ujar saya
pada beliau, "Barangkali nanti perlu kita kaji 2 risalah penting tentang
bid'ah: Al I'tisham-nya Imam Asy Syathibi sekaligus Qawa'idul Ahkam fi
Mashalihul Anam-nya Imam 'Izzuddin ibn 'Abdissalaam. Insyaallah."
Dalam ibadah, tujuan memang tidak membebaskan cara. Tapi
memahami latar belakang seharusnya membuat kita mengerti, menghargai, dan
menyikapi dengan hikmah sejati.
0 Response to "MEMBENTENGI 'AWAM (Menguak Alasan Penyebutan Nama Khulafatur Rasyidin dalam Sholat Tarawih)"
Posting Komentar